MENCERMATI AKAR
POLARISASI SUNNI-SYI'I
prolog buku berjudul : Epistemologi Antagonisme Syi'ah dari IMAMAH bsampi MUT"AH
karya : Mohammad Baharun
SEBAGAIMANA pernah disiarkan pers (4 Juli) tahun 2003 silam serangan born (untuk kesekian kali) lagi-lagi telah mengguncang Pakistan.' Diduga dilakukan oleh Muslim Sunni garis keras di kota kecil Quetta, dan diperkirakan telah menewaskan 47 jiwa dan mencederai 65 orang lain dari sekte Muslim Syi'i.? Dan begitulah kemudian tragedi lain menyusul: di tengah upacara ritual ta'ziyeh di Karbala dan Baghdad, juga di kota kecil Quetta, Pakistan (02/ 03/04) peristiwa itu telah menelan korban 271 tewas dan 393luka-luka. Kasus ini seakan telah melahirkan 'teori baru', bahwa radikalisme Islam ternyata tidak saja menjadikan non Muslim sebagai target kekerasan, tetapi kini juga sesama Muslim.
Tragedi ini sudah terjadi beberapa kali di Pakistan akibat polarisasi berkepanjangan antara Sunni-Syi'i - terhitung sejak 'ekspor' Revolusi Iran" digaungkan oleh Ayatullah Khomeini karena euforia kemenangan revolusi (1979) yang 'dosis'nya berlebihan itu. Saling balas dari masing-masing kubu sering terjadi, dan telah menelan banyak korban sia-sia. Dalam catatan di atas kertas (kepustakaan) tidak semua sekte Syi'ah revivalis berperilaku stereotipseperti Khomeini pasca revolusi itu." Namun Syi'ah modern di bawah Ayatullah ini, mengingatkan kembali stigma sejarah Syi'ah di bawah Dinasti Shafawi yang menekan kaum Sunni di Iran. Dimasa awal kekuasan tiran Shafawi yang didukung ulama Syi'ah: kaum Sunni dihadapi secara opresif-represif, kecuali mereka yang tentu saja sudah melakukan konversi (eksodus) ke pangkuan Syi'ah. Dan memang pada waktu itu banyak Sunni awam yang berpindah ke aliran sekte tersebut.