TAK KAN TERGANTIKAN
Hari ini panas menyengatku, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhku, bagai matahari ini berada tepat di atas ubun-ubunku. Aku berjalan di tengah hiruk pikuk Jakarta ini. Orang-orang dengan suara yang ricuh tak kudengarkan. Di tepi jalan, kulihat seorang anak kecil perempuan sedang duduk sendiri. Awalnya, ku tak hiraukan dia. Tapi, terlintas sejenak dalam fikirku ingin menyapanya. Akupun menghampirinya. "Adik kenapa?" Tanyaku yang duduk di sampingnya sambil merangkul bahunya. Ku lihat air mata membasahi wajahnya." Aku kehilangan kakakku." Jawabnya dengan suara lirih dan terbata-bata. "Adik! Namanya siapa ?" tanyaku. " Tata" jawabnya dengan singkat. "terus ibu dan ayahmu ?" tanyaku lagi. "Mereka telah meninggal." Jawabnya sambil terus menundukkan kepalanya. Akupun merasa kasihan sama dia. Hidup sendiri di tengah kejamnya Jakarta. Seorang anak kecil yang hidup terlontang –lantung dengan beban yang sangat menghujamnya. " Aku ingin kakakku kembali, hanya dia satu-satunya keluargaku. "Kata anak itu dengan wajah yang dipenuhi air mata. "Lha terus kakakkmu kemana sekarang? Kok kamu di tinggal sendiri di sini ?" tanyaku dengan penuh ingin tahu. Lalu anak itu menceritakan apa yang telah menderanya saat ini. Akupun terharu mendengarnya. Seorang kakak yang rela berkorban apa saja buat adiknya, tuk tetap bisa hidup bersama. Tak pantang menyerah tuk dapatkan sebutir nasi yang halal tuk dinikmati. Dan lebih parahnya lagi, sudah dua hari ini mereka belum makan apa-apa. Setelah orang tuanya meninggal, tak ada lagi keluarga yang ingin mengurusnya. Hartanya telah ludes. Rumahnya telah terbakar dan waktu itulah orang tuanya ikut terbakar oleh si jago merah. Sekarang ini, mereka hanya bertempat tinggal di bawah rumah kerdus, layaknya seorang anak yang terlantar di jalanan. Tapi kesalutanku pada mereka berdua yang tak pantang menyerah dan terus semangat untuk bisa hidup dan meraih kebahagiaan yang ia citakan dan sebuah keadilan hidup yang ia harapkan. Ia tetap tersenyum dalam keadaan yang seperti ini.