Kamis, 10 Juni 2010

MENGUAK MAKNA TERSIRAT KITAB AL-AMTSILAH AT-TASHRIFIYYAH KARYA SYAIKH M. MA'SHUM BIN ALI KUWARON JOMBANG

I. MUQODDIMAH
Suatu zaman atau periode sangat berpengaruh sekali terhadap kehidupan manusia. Maka tidak aneh jika pada zaman dahulu banyak ulama-ulama besar dan pemikir-pemikir Islam yang tidak diragukan akan keilmuannya, karena pada zaman itu belum banyak kemaksiatan dan kemungkaran yang merajalela seperti sekarang ini, sehingga seseorang yang hidup pada era tersebut bisa konsentrasi dan leluasa dalam mendalami suatu ilmu serta dapat menjaga kewira'ian dan dapat menanamkan ketulusan jiwa dan keikhlasannya dalam rangka li I'lai kalimatillah.
Semakin akhir, zaman semakin rusak dengan bermacam-macam faktor, sehingga kualitas produk pun juga menurun. Namun dalam segi dhohir dan gebyarnya kelihatan semakin maju. Hal inilah yang disinggung oleh Imam Ibnu Malik dalam nadhom Alfiyahnya :
والثاني منقوص ونصبه ظهر
Periode kedua itu berkurang, namun penampilannya tampak terlihat
Menurut pengamatan kami, zaman dulu dan sekarang berbeda jauh dalam segi keikhlasan dan kewira'ian seseorang, dikarenakan pada zaman sekarang banyak perkara-perkara syubhat bahkan haram yang sulit kita hindari. Maka harus kita akui bahwa orang-orang dahulu lebih sedikit menerjang hal-hal yang dilarang. Sehingga dengan kondisi tersebut karya orang-orang dahulu masih bisa dimanfaatkan dan dikonsumsi sampai sekarang, yang tidak lain karena ketulusan dan keikhlasan mereka.
Kami sangat terharu dengan realita di atas. Sampai-sampai pada suatu hari kami terlintas sebuah pemikiran dari lubuk hati yang sangat dalam yang ada hubungannya dengan hal tersebut, yang insya Allah akan kami paparkan pada pokok permasalahan di bawah.
Maka dari itu, jika nanti terdapat kesalahan atau kekurangan mohon saran dan koreksinya, karena memang itu yang ada dalam pikiran kami. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap bisa bertholabul ilmi khususnya di Pondok Pesantren Sarang tercinta ini.


II. POKOK PERMASALAHAN
Sudah tidak asing lagi di kalangan kita bahkan telah menjadi makanan kita sehari-hari sebuah kitab karya ulama nusantara yang mengupas tuntas tentang contoh-contoh materi pembahasan yang ada dalam ilmu Shorof. Mungkin dapat kita katakan semua permasalahan yang dibahas dalam ilmu shorof telah dicontohkan pada kitab tersebut.
"Al-Amtsilah Al-Tashrifiyyah" Demikianlah Mushonnifnya Syaikh M. Ma'shum bin Ali Allahu Yarhamuh memberikan nama atas karya beliau tersebut. Sesuai dengan namanya, kitab ini memang sengaja didesain hanya menampilkan contoh-contoh saja, tanpa menjelaskan secara gamblang dan terperinci permasalahan-permasalahan yang seharusnya dibahas dalam fan ilmu tesebut.
Namun dibalik semua itu, ada makna tersirat dan sangat menarik dalam rangka mendorong dan sebagai motivasi serta acuan bagi thalabatul ilmi al-syar'i dalam menjalankan tugasnya untuk menghilangkan kebodohan dan memerangi hawa nafsunya.
Dengan segala keterbatasan dan kekurangan, kami mencoba untuk menganalisa makna-makna tersebut dari lubuk hati yang sangat dalam. Dengan harapan semoga menjadi I'tibar dan introspeksi bagi kami pribadi khususnya dan bagi para santri umumnya.
Dari berbagai pembahasan dalam kitab tersebut, kami hanya membahas pada Tashrif Isthilahi bab Tsulatsi Mujarrod saja khususnya pada binak Shohih, karena lafadz yang asal adalah shohih. Dan ini dapat dianalogkan pada manusia sebagai manusia yang normal, dalam arti tidak memasukkan orang-orang yang mempunyai keistimewaan sejak lahir yang tidak dapat ditiru oleh lainnya.
Pada bab pertama (فتح ضم), beliau mencontohkan lafadz نصر yang berarti menolong. Hal ini menunjukkan bahwa, seseorang yang sudi menuntut ilmu agama (terkhusus bagi santri yang mondok) itu pada dasarnya hanya karena pertolongan Allah SWT. Sebagaimana orang masuk agama Islam itu juga karena mendapat hidayah dari Allah SWT. Walau pun kita berdakwah sampai beberapa ribu tahun, jika orang tersebut tidak mendapatkan hidayah, ia tidak akan masuk agama Islam.
Dalam hal ini ilmu kami posisikan sebagai agama Islam, karena Islam adalah agama yang didasarkan pada ilmu. Di sini, ilmu dan agama atau agama dan ilmu sejatinya merupakan dua wujud yang tidak bisa dipisahkan. Permasalahan agama merupakan permasalahan ilmu, demikian pula sebaliknya .
Nabi SAW juga bersabda :
العلم دين، والصلاة دين، فانظروا عمن تأخذون هذا العلم وكيف تصلون هذه الصلوات فإنكم تسألون يوم القيامة
Bab kedua (فتح كسر), beliau menampilkan contoh ضرب yang berarti memukul. Contoh ini melambangkan pada perkara-perkara yang berat dan menyakitkan, karena dipukul itu adalah hal yang tidak enak. Pada bab kedua Ini Mbah Mushonnif memberikan isyarat, bahwa setelah kita mendapatkan pertolongan dari Allah untuk mampu menimba ilmu di pondok, kita harus bersunggung-sungguh dalam melaksanakan wadzhifah dan melakukan segala aturan dan kewajiban yang telah ditentukan, serta mampu menghadapi segala cobaan dan rintangan, yang mana hal ini sangat berat dan membutuhkan kesadaran yang sangat tinggi.
Hal ini kami korelasikan dengan maqolah من جد وجد dan yang telah disinggung oleh syaikh Syarofuddin yahya al-Amrithi dalam memberikan suatu contoh لا ترم علما وتترك التعب
Hal yang sama terdapat dalam Nadzom Al-Imrithy, Mbah Mushonnif memberikan contoh pembagian kalimah dengan menadzomkan :
لاسم وفعل ثم حرف تنقسم وهذه ثلاثـها هي الكلم
والقول لفظ قد أفـاد مطلقا كقم وقد وإن زيدا ارتقى
Kalau kita mau menganalisa syathr tsani nadhom kedua, pasti kita akan menemukan suatu hal besar dan faedah yang penting bagi para santri yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama kali Mbah Mushonnif mencontohkan kalimah fi'il dahulu dengan lafdz قم, kemudian kalimah huruf dengan قد dan إن terakhir kalimah isim dengan lafdaz زيدا. Dalam menmpilkan urutan seperti ini, disamping menerapkan badi' laf wan nasyr ghoiru murottab, beliau mempunyai maksud tertentu yang mana menurut analisa kami adalah sebagai berikut :
Pertama beliau mencontohkan lafadz قم yang artinya adalah perintah untuk berdiri. Yang dimaksud disini adalah seorang santri pada tahap awal ia harus berjuang dan mau melakukan hal yang sulit dan berat (belajar, mengahafal, muhafadhoh, sorogan dll). Beliau melambangkan hal yang sulit dan berat ini dengan menggunakan lafadz قم karena orang yang berdiri pastinya dia merasakan berat dan lelah, apalagi berdiri di depan kelas yang ditonton oleh para temannya, pasti ditambah rasa gengsi dan malu. Mungkin dengan penganalisaan seperti inilah para Masyayikh dan Asatidz selalu menta'zir kita dengan cara berdiri.
Kedua kalinya beliau mencontohkan قد kalimah huruf yang termasuk fungsinya adalah taukid yang artinya adalah menguatkan. Ini melambangkan bahwa para santri disamping melakukan hal di atas ia juga harus bersungguh-sungguh, inilah hal yang sangat penting dan menentukan bagi mereka yang menginginkan keberhasilan.
Jika semua hal diatas telah dilaksanakan, maka Insya Allah dengan izinNya mereka akan menjadi orang yang bertambah-tambah ilmunya kemudian ia menjadi orang yang tinggi derajatnya. Hal ini yang dilambangkan oleh beliau dengan lafadz .إن زيدا ارتقى
Di samping itu, memang sangat benar sekali jika para kiyai kuno dalam mendidik santrinya sangat keras dan beliau tidak segan-segan memukul santrinya jika melakukan kesalahan. Tindakan beliau itu tidak bermaksud jelek dan menyiksa santri, beliau hanyalah memberikan sanksi atas kesalahannya agar mereka jera dan tidak mengulanginya lagi. Para santri yang mendapatkan didikan seperti ini, setelah pulang ke rumah kebanyakan mereka berhasil dan memperoleh derajat yang tinggi, yang salah satu faktornya adalah karena pukulan tadi yang mereka terima dengan penuh keikhlasan yang diyakini juga mengandung banyak barokah.
Maka dari itu, kami sangat tidak setuju jika pemerintah membuat undang-undang larangan memukul terhadap anak didiknya, disamping mengurangi barokah, aturan ini juga tidak mencerminkan kesalafan dan tidak mengikuti tindakan ulama' salaf yang sulit ditandingi keikhlasan dan kewira'iannya oleh orang-orang zaman sekarang.
Jika para santri mampu melewati dua hal tersebut di atas (mendapatkan pertolongan dari Allah dan bersungguh-bersungguh), Insya Allah perjalanan mereka dalam menuntut ilmu bisa berjalan dengan lancar dan bisa kefutuh (mendapatkan kemudahan dari Allah). Hal inilah yang dilambangkan oleh mbah mushonnif dalam menampilkan contoh pada bab ketiga (فتحتان) dengan lafadz فتح yang artinya adalah membuka, dengan maksud semoga Allah membukakan hati para santri untuk dapat menerima ilmu dengan mudah dan bisa merasakan لذّه العلم.
Nah, mungkin hal inilah yang kurang disadari oleh para santri sehingga mereka sulit mendapatkan futuh dari Allah yang menyebabkan merasa sulit dalam mencari ilmu. اللهم افتح لنا فتوح العارفين
Jika para santri sudah kefutuh, maka ia akan merasakan mudah dalam mencari ilmu bahkan merasa kurang dan haus akan ilmu, sehingga ia dapat mengetahui dan mengerti berbagai macam permasalahan sehingga santri tadi bisa dikatakan sebagai wong ngalim. Hal inilah yang diisyarahkan oleh Mushonnif pada bab keempat (كسر فتح) dengan contoh علم
Kemudian dengan modal ilmu, seseorang dapat memahami tentang pokok-pokok ajaran agama mulai dari Iman, Islam sampai pada derajat Ihsan yang telah dijelaskan oleh Nabi dalam sabda beliu :
أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم يكن تراه فإنه يراه
Demikian ini makna tersirat dari contoh bab kelima (ضم ضم) dengan menampilkan lafadz حسن
Terakhir, pada bab keenam beliau menmpilkan contoh حسب yang mana lafdz ini adalah termasuk dari Af'alul Qulub bi makna rujhan, tapi terkadang juga digunakan makna yaqin sebagaimana dalam sya'ir :
حسبت التقى والجود خير تجارة رباحا إذا ما المرء أصبح ثاقلا
Pada contoh terakhir ini melambangkan bahwa, jika orang telah memenuhi semua perkara-perkara di atas, maka orang tadi menjadi orang yang bisa yakin dengan Allah, dalam hatinya tidak ada apapun kecuali Allah.
Demikianlah makna-makna yang terkandung dalam kitab "Al-Amtsilah Al-Tashrifiyyah" yang pernah kita hafalkan walaupun sekarang sudah lupa.
Kalau kita mau berangan-angan secara mendalam mungkin hal semacam ini tidak terdapat pada kitab ini saja. Seorang mushonnif dalam mengarang kitab pada saat menampilkan contoh, mengurutkan fashl atau menadzomkan dll, disamping untuk menjelaskan dan memudahkan bagi para pembaca dan yang mempelajarinya pasti ada hal lain dibalik semua itu yang dimaksudkan oleh beliau. Semisal dalam ilmu fan nahwu, dari tingkat Ibtida' sampai Aliyah, mushonnif memberikan contoh yang sama, yaitu pasti menampilkan contoh lafadz زيد mulai dari جاء زيد، رأيت زيدا، مررت بزيد sampai غلام زيد. Sampai-sampai ada santri baru penasaran sama orang yang namanya zaid, siapa sih dia? bagaimana bentuk orangnya? Kok pak kyai sering sekali menyebut-nyebut namanya.
Nah, dalam penyebutan contoh lafadz زيد sebagaimana di atas, kiyai mushonnif bermaksud medo'akan kepada kita semua, semoga ilmu yang kita pelajari senantiasa bertambah dari hari ke hari, karena lafadz زيد itu maknanya adalah bertambah. Sebagaimana dalam sebuah sya'ir :
وكن مستفيدا كل يوم زيادة من العلم واسبح في بحور الفوائد

III. KESIMPULAN
Dari beberapa uraian di atas, dapat kami simpulkan sebagai berikut : Pertama, tindakan orang-orang salaf itu kebanyakan mengandung suatu hal yang penting yang tidak tampak secara jelas, maka lewat tulisan kami menyarankan agar jangan seenaknya saja mengkritik atau bahkan merubah yang telah ditetapkan oleh para pendahulu kita, dikarenakan mereka adalah sosok yang mempunyai jiwa keikhlasan dan kewira'ian yang tinggi sehingga semua yang dilakukannya dapat membuahkan hasil dan mengandung dampak positif yang dapat kita rasakan sampai saat ini. Tidak seperti orang-orang zaman sekarang yang bersifat metrealis dan kapitalis, segala hal yang dilakukan harus ada imbalannya berupa materi, sampai-sampai apa yang dilakukannya kadang-kadang tidak atas dasar kebenaran. Na'udzubillah min Dzalik.
Kedua, kita tidak usah berpikir yang muluk-muluk dan terlalu jauh, karena mestinya di sekeliling kita jika kita mau berangan-angan pasti ada jalan keluar dan kemudahan bagi kita, bahkan hal itu terdapat pada diri kita sendiri.

IV. PENUTUP
Demikianlah sekelumit yang dapat kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat bagi kita dan semoga tujuan kita yang baik senantiasa dikabulkan oleh Allah, Amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar