Sabtu, 20 November 2010

PEMBUKUAN HADIST


PEMBUKUAN HADIST
 oleh: peserta Ma'had Aly PPTM
I. KEADAAN PENULISAN BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM
Riset ilmiyah menunjukkan bahwa bangsa arab telah mengenal tulisan sebelum islam datang,mereka mencatat peristiwa peristiwa yang terjadi dibebatuan,hal ini telah dibuktikan oleh pakar arkeologi dengan bukti dan data data yang kongkrit,penemuan yang paling banyak ditemukan yaitu di semenanjung arab bagian utara <1> yang mana disitulah letak persambungan peradapan bangsa arab dengan bangsa persi dan romawi.Sebagian dari penelitian ini disebutkan bahwa A'diy ibn Zaid Al Ubadi (35 SH)<2> ketika mulai besar digagasi dan dibelajari oleh ayahnya dengan tulisan tulisan  hinggga ia kenal dan mencicipi bahasa arab,kemudian ia masuk dewan kisra dan ia adalah orang pertama yang menulis bahasa arab di dewan kisra<3>,hal ini menunjukkan bahwa zaman jahiliyyah sudah ada lembaga semacam madrasah atau yang sekupnya lebih kecil lainnya, yang menampung anak anak untuk belajar tulis menulis dan syair arab.Para guru madrasah ini menjadi mulia dan mempunyai derajat yang tinggi seperti Abu Sufyan ibn Ummayyah ibn Abdi Syamsin dan yang lainnya. Alkisah Abu Jufainah pernah diundang ke madinah untuk mengajar menulis.<4> pada masa awal sebagian orang yahudi mengenal tulisan arab dengan perantara anak anak di madinah,kemudian datanglah islam.
Orang arab memberi julukan Al-Kamil  kepada orang yang bisa menulis dan orang yang lihai memanah,tetapi banyak penyair dari golongan mereka yang membanggakan diri dengan daya ingatannya dan hafalan syair syair mereka,bahkan diantara mereka ada yang menyamarkan diri kalau ia bisa menulis,karena hal ini meupakan aib.Dengan ini jelaslah ketidaktepatan sebagian pakar sejarah yang mengatakan bahwa waktu islam masuk makkah, penulis kurang dari sepuluh orang <5>.

MENCERMATI AKAR POLARISASI SUNNI-SYI'I

MENCERMATI AKAR
POLARISASI SUNNI-SYI'I

prolog buku berjudul : Epistemologi Antagonisme Syi'ah dari IMAMAH bsampi MUT"AH
karya : Mohammad Baharun

SEBAGAIMANA pernah disiarkan pers (4 Juli) tahun 2003 silam serangan born (untuk kesekian kali) lagi-lagi telah mengguncang Pakistan.' Diduga dilakukan oleh Muslim Sunni garis keras di kota kecil Quetta, dan diperkirakan telah menewaskan 47 jiwa dan mencederai 65 orang lain dari sekte Muslim Syi'i.? Dan begitulah kemudian tragedi lain menyusul: di tengah upacara ritual ta'ziyeh di Karbala dan Baghdad, juga di kota kecil Quetta, Pakistan (02/ 03/04) peristiwa itu telah menelan korban 271 tewas dan 393luka-luka. Kasus ini seakan telah melahirkan 'teori baru', bahwa radikalisme Islam ternyata tidak saja menjadikan non Muslim sebagai target kekerasan, tetapi kini juga sesama Muslim.
Tragedi ini sudah terjadi beberapa kali di Pakistan akibat polarisasi berkepanjangan antara Sunni-Syi'i - terhitung sejak 'ekspor' Revolusi Iran" digaungkan oleh Ayatullah Khomeini karena euforia kemenangan revolusi (1979) yang 'dosis'nya berlebihan itu. Saling balas dari masing-masing kubu sering terjadi, dan telah menelan banyak korban sia-sia. Dalam catatan di atas kertas (kepustakaan) tidak semua sekte Syi'ah revivalis berperilaku stereotipseperti Khomeini pasca revolusi itu." Namun Syi'ah modern di bawah Ayatullah ini, mengingatkan kembali stigma sejarah Syi'ah di bawah Dinasti Shafawi yang menekan kaum Sunni di Iran. Dimasa awal kekuasan tiran Shafawi yang didukung ulama Syi'ah: kaum Sunni dihadapi secara opresif-represif, kecuali mereka yang tentu saja sudah melakukan konversi (eksodus) ke pangkuan Syi'ah. Dan memang pada waktu itu banyak Sunni awam yang berpindah ke aliran sekte tersebut.